King Charles III menuai kritik pedas dari mantan kapelan Ratu Elizabeth, Gavin Ashenden, terkait dugaan meninggalkan sumpahnya sebagai Defender of the Faith. Perubahan istilah dalam Sovereign Grant Annual Report edisi Juni memicu kontroversi luas di tengah publik Inggris.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan tersebut, frasa tradisional Defender of the Faith diganti menjadi His Majesty is Supreme Governor of the Church of England and protects the space for Faith within the multi-faith nation. Pengamat kerajaan Richard Fitzwilliams menilai perubahan kalimat tersebut memicu perdebatan sengit dan dianggap kurang menghargai tata bahasa Inggris yang baik.
Pengamat kerajaan Christopher Andersen menjelaskan bahwa King Charles III memang dikenal memiliki pandangan ekumenis yang kuat sejak masa kuliahnya di Cambridge pada dekade 1970-an. Sang raja meyakini pentingnya merangkul berbagai keyakinan lain seperti Islam, Buddha, hingga Hindu demi menciptakan masa pemerintahan inklusif.
Di sisi lain, masa depan peran keagamaan monarki Inggris di bawah kepemimpinan Pangeran William turut dipertanyakan para pengamat. Berdasarkan analisis, generasi baru keluarga kerajaan diprediksi bakal lebih fleksibel atau bahkan berpotensi meninggalkan tradisi gelar Defender of the Faith sepenuhnya di masa depan.