Aturan baru UEFA memberikan tiket Liga Champions kepada Liverpool meski hanya mampu menduduki peringkat kelima klasemen akhir Liga Inggris musim lalu. Berdasarkan laporan eksklusif Football Insider, kebijakan kuota tambahan performa Eropa menuai pro dan kontra di kalangan pengamat sepak bola.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →The Reds mengamankan tiket kompetisi elit tersebut setelah unggul tipis atas Bournemouth, meski terpaut jarak lima poin dari zona empat besar. Keberhasilan ini tidak lepas dari akumulasi poin koefisien Inggris berkat performa cemerlang klub-klub Premier League di kompetisi Eropa sebelumnya.
Mantan pemandu bakat Tottenham Hotspur dan Everton, Bryan King, secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap regulasi tersebut. "Saya rasa finis kelima lalu mendapat kesempatan bermain di Liga Champions adalah lelucon bagi integritas turnamen," ujarnya kepada Football Insider.
Analisis Football Insider menunjukkan bahwa dominasi klub Inggris di panggung Eropa mengamankan dua musim berturut-turut jatah ekstra slot performa bagi Premier League. Arsenal yang menembus final Liga Champions serta kesuksesan Aston Villa dan Crystal Palace menjadi faktor utama penentu kuota tersebut.
Total sembilan klub asal Inggris dipastikan tampil di kompetisi Eropa musim ini, mencakup lima tim di Liga Champions termasuk Manchester City, Manchester United, dan Aston Villa. Besarnya jumlah wakil Premier League memperbesar peluang mempertahankan kuota tambahan serupa pada musim mendatang.