Meniti Harapan Ekonomi di Atas Bayang-Bayang Sejarah Kelam
Setiap tanggal 4 Juli, Rwanda memperingati Hari Pembebasan untuk mengenang kemenangan militer Front Patriotik Rwanda (RPF) pimpinan Presiden Paul Kagame yang berhasil menghentikan genosida etnis Tutsi pada 1994. Bagi Claudette Kamikazi, seorang pemilik toko suvenir berusia 29 tahun di Kigali, sejarah kelam itu tetap terasa nyata karena sang ibu merupakan penyintas genosida, sementara ayahnya masih mendekam di penjara sejak ia balita akibat keterlibatan dalam tragedi tersebut.
Di bawah kepemimpinan Kagame yang menjabat sejak tahun 2000, Rwanda mengalami transformasi ekonomi yang impresif dengan pertumbuhan rata-rata 7 persen per tahun lewat sektor pariwisata, teknologi, dan infrastruktur. Namun, pesatnya pembangunan fisik belum sepenuhnya menyelesaikan masalah mendasar, terutama bagi sektor produktif mengingat lebih dari 65 persen populasi Rwanda saat ini didominasi oleh kelompok usia muda.
Read Also
Tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah saat ini adalah penyediaan lapangan kerja, dengan angka pengangguran pemuda yang masih bertengger di kisaran 14 persen. Banyak lulusan sarjana merasa janji politik RPF untuk menciptakan 200.000 pekerjaan baru per tahun belum terealisasi sepenuhnya, diperparah dengan kritik dari berbagai aktivis hak asasi manusia mengenai pembatasan ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi di negara tersebut.
Selain masalah ekonomi, luka psikologis yang tidak terlihat masih menjadi beban berat bagi masyarakat karena riset kesehatan setempat menunjukkan satu dari lima warga Rwanda menderita gangguan mental. Harapan baru kini muncul seiring berjalannya program rekonsiliasi nasional dan rencana pembebasan bersyarat bagi sejumlah tahanan akhir tahun ini, yang diharapkan bisa menutup babak kelam masa lalu menuju target negara berpenghasilan tinggi pada 2050.