Trump Soroti Ancaman Komunisme Domestik dan Ketegangan Geopolitik
Berpidato di bawah monumen granit Gunung Rushmore menjelang Hari Kemerdekaan 4 Juli, Trump mengangkat isu identitas nasional dan ideologi untuk membakar semangat pendukungnya menjelang pemilu sela November mendatang. Dalam kesempatan tersebut, ia mengeklaim bahwa AS telah membangun militer terkuat dalam sejarah yang berhasil memenangkan dua perang dunia, serta menundukkan musuh-musuh besarnya di masa lalu.
Pidato kontroversial ini disampaikan di tengah kekhawatiran para pemilih terkait inflasi yang terus melonjak dan tingginya harga energi akibat konflik bersenjata antara koalisi AS-Israel dengan Iran. Menyinggung perang yang sedang berlangsung, Trump mengeklaim pihak Teheran sangat ingin berdamai setelah pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara pada hari pertama pertempuran.
Read Also
Strategis Partai Demokrat dan mantan penasihat kampanye Obama, Ameshia Cross, menilai pidato tersebut mencerminkan kekhawatiran Trump yang mulai kehilangan kendali politiknya setelah beberapa kandidat progresif memenangkan pemilu primer di New York, Colorado, dan Texas. "Trump merasa terancam dengan kehadiran politisi muda Demokrat yang memenangkan hati rakyat di berbagai negara bagian," ujar Cross dalam sebuah wawancara.
Kritik tajam juga datang dari kubu oposisi yang menilai pemerintahan Trump telah mempolitisasi perayaan sejarah nasional ini dengan menyerahkan kepanitiaan HUT ke-250 kepada kelompok konservatif. Sementara itu, Wali Kota New York dari sayap progresif, Zohran Mamdani, menawarkan narasi tandingan dalam upacara naturalisasi imigran dengan menegaskan bahwa kontribusi pendatang dan perbedaan pendapat adalah wujud nyata dari patriotisme Amerika.