Ketegangan Regional Memuncak Usai Pendaratan Pesawat Iran di Sanaa
Koalisi militer yang mendukung pemerintah sah Yaman menyatakan akan merespons setiap upaya yang menargetkan kerajaan atau melanggar kedaulatan Yaman dengan ketegasan yang belum pernah ada sebelumnya. Pernyataan keras ini dikeluarkan menyusul serangkaian ancaman dari kelompok Houthi serta mendaratnya pesawat sipil Iran di ibu kota Yaman, Sanaa, yang saat ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak tersebut.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menuduh gerakan yang didukung Iran tersebut sengaja mengembuskan ancaman baru untuk mengalihkan perhatian dari krisis domestik. Al-Maliki menilai milisi Houthi sedang mencoba mengekspor kesulitan ekonomi dan tekanan politik yang mereka hadapi di dalam negeri ke ranah regional, sekaligus membahayakan infrastruktur sipil penting termasuk pelabuhan Hodeidah dan Bandara Internasional Sanaa.
Read Also
Sebelumnya, pihak Houthi melalui juru bicara militernya, Yahya Saree, mengancam akan meluncurkan serangan balasan komprehensif yang menyasar bandara-bandara Arab Saudi serta aset vital di darat maupun laut. Saree mengklaim bahwa pasukannya sempat menggunakan rudal pertahanan udara untuk menghalau jet tempur Saudi yang mencoba memblokir pendaratan pesawat sipil Iran berpenumpang 200 orang, yang menandai penerbangan publik pertama dari Teheran dalam satu dekade terakhir.
Merespons eskalasi ini, Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman langsung menggelar rapat darurat dan mengutuk keras penerbangan Iran tersebut karena dinilai melanggar hukum internasional serta resolusi Dewan Keamanan PBB. Pemerintah Yaman bersama koalisi kini mendesak PBB dan mitra regional untuk memperketat pengawasan jalur logistik guna memutus pasokan senjata dan dukungan finansial bagi kelompok Houthi.