Kemenangan Tipis dan Bayang-Bayang Polarisasi Politik Peru
Pengadilan pemilu tertinggi Peru, JNE, akhirnya mengesahkan kemenangan kandidat sayap kanan Keiko Fujimori dalam pemilu presiden putaran kedua. Pengumuman resmi ini diterbitkan setelah berminggu-minggu ketidakpastian melanda publik sejak pemungutan suara digelar pada 7 Juni lalu melawan anggota kongres berhaluan kiri, Roberto Sanchez.
Berdasarkan rekapitulasi akhir, putri dari mendiang mantan Presiden Alberto Fujimori ini menang tipis dengan raihan 9.223.000 suara, sementara Sanchez mengantongi 9.173.000 suara. Meski Sanchez sempat menuduh adanya kecurangan dalam prosedur digitalisasi suara luar negeri, para pengamat pemilu internasional menegaskan tidak ada bukti valid terkait manipulasi tersebut.
Read Also
Koresponden melaporkan bahwa perolehan suara dari warga Peru di luar negeri menjadi faktor penentu yang membalikkan keadaan untuk keunggulan Fujimori. Menanggapi hasil ini, kubu sayap kiri kini mulai menggalang kekuatan sosial dan berencana membawa sengketa tersebut ke Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika sebagai bentuk perlawanan politik.
Fujimori dijadwalkan dilantik pada akhir Juli bertepatan dengan hari kemerdekaan Peru, menjadikannya presiden kesembilan negara itu dalam satu dekade terakhir. Stabilitas pemerintahannya akan sangat bergantung pada dinamika Senat baru yang kini terbelah dua antara koalisi kanan Fuerza Popular dan kelompok kiri Juntos por el Peru.