Kepungan Militer dan Serangan Drone Lumpuhkan Fasilitas Publik
Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk mendesak para pemimpin dunia untuk segera bertindak mencegah pertumpahan darah massal di El-Obeid, ibu kota negara bagian Kordofan Utara. Kota strategis ini dilaporkan berada dalam kondisi kritis akibat kepungan yang kian mencekik jelang serangan besar-besaran dari kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Konflik berkepanjangan yang pecah sejak April 2023 antara tentara reguler Sudan dan RSF kini berpusat di wilayah penghasil minyak tersebut. Berdasarkan data PBB, sedikitnya 45 warga sipil tewas dan puluhan lainnya luka-lukanya akibat belasan rentetan serangan drone yang menghujani kawasan pemukiman dalam kurun waktu tiga minggu terakhir.
Read Also
Turk menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar gertakan melainkan ancaman nyata yang harus menjadi prioritas diplomasi internasional. "Sinyal dari El-Obeid sudah sangat jelas bahwa bencana kemanusiaan baru sedang terjadi di Sudan, dan dunia internasional tidak boleh tinggal diam menyaksikan kekejaman ini berlanjut," ujarnya dalam sidang darurat Dewan HAM PBB di Jenewa.
Dampak pertempuran tersebut kini melumpuhkan total infrastruktur kota yang dihuni oleh setengah juta jiwa dan 100.000 pengungsi domestik. Serangan artileri dilaporkan telah menghancurkan pembangkit listrik utama dan depot bahan bakar, memutus pasokan air bersih, serta memicu krisis pangan akut bagi warga yang terjebak di zona pertempuran.