Fajar pecah dengan suara raung sirine di Bahrain dan Kuwait. Lelaki di gurun tahu makna suara itu. Berdasarkan pengumuman resmi Garda Revolusi Iran pada hari Rabu, mereka telah melepas gelombang rudal dan drone, menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Bandar Salman dan Ali Al Salem. Sebuah drone MQ-9 milik Amerika Serikat juga dilaporkan jatuh di langit yang kelam.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Bencana ini datang setelah malam yang panjang. Menurut laporan militer Amerika Serikat, pesawat-pesawat mereka sebelumnya telah menggempur lebih dari 60 perahu cepat milik Iran. Washington murka karena tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz diserang, sebuah tindakan yang mereka sebut sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang rapuh.
Laut adalah tempat yang keras, dan minyak membuatnya lebih berbahaya. Berdasarkan keterangan resmi, Gedung Putih telah mencabut izin penjualan minyak internasional bagi Iran, sebuah keputusan yang langsung mengerek harga minyak dunia lebih dari tiga persen. Langkah ini membuat Teheran merasa dikhianati dan tersudut di meja perundingan.
Menurut Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Ankara, serangan balasan Amerika Serikat adalah hal yang mutlak diperlukan untuk menegakkan hukum di laut. Namun di Teheran, Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan dengan tegas bahwa era penindasan telah selesai. "Kami tidak akan menyerah," tulisnya, mencerminkan keteguhan hati sebuah bangsa yang menolak tunduk.
Bom-bom Amerika Serikat telah jatuh di Kharg Island, Qeshm Island, dan pelabuhan Sirik, melukai beberapa orang dan merusak dermaga nelayan. Kontak senjata ini terjadi tak lama setelah rakyat berkabung atas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada hari pertama perang, meninggalkan luka mendalam yang menuntut penebusan.
Kini, gencatan senjata 60 hari yang dirancang di Qatar telah menjadi abu sebelum waktunya. Amerika Serikat dan Iran kembali berhadapan di Selat Hormuz, tempat di mana kekuasaan dan jalur laut dunia dipertaruhkan, dan tidak ada pihak yang bersedia menurunkan senjatanya terlebih dahulu.