Matahari runtuh di Atlanta dan malam menjadi dingin, tetapi di lapangan rumput itu, darah lelaki terasa panas. Argentina, sang juara bertahan, bertarung melawan Mesir dalam laga yang keras dan melelahkan. Mesir memimpin lebih dulu melalui sundulan Yasser Ibrahim pada menit kelima belas. Keadaan menjadi buruk bagi Argentina ketika tendangan penalti Lionel Messi dihalau oleh penjaga gawang Mostafa Shobeir. Di ruang ganti saat jeda, ada sunyi yang berat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan pertandingan, Mesir kembali mencetak gol lewat Mostafa Ziko pada menit keenam puluh tujuh. Skor menjadi dua kosong. Namun, sepak bola adalah urusan lelaki yang menolak untuk kalah. Argentina bangkit dengan perkasa. Cristian Romero mencetak gol, lalu Lionel Messi menebus dosanya, dan pada menit kesembilan puluh tiga, Enzo Fernandez melesakkan gol kemenangan. Argentina menang tiga dua, tetapi pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai di tepi lapangan.
Menurut rekaman video penonton yang beredar luas, suasana di bangku cadangan Mesir pecah menjadi amarah yang pekat menjelang peluit akhir. Pelatih utama Hossam Hassan menyilangkan tangannya membentuk tanda "X" ke arah wasit. Di sampingnya, situasi menjadi lebih berbahaya. Pelatih kiper Mesir, Saafan El-Sagheer, kehilangan kendali atas dirinya dan mencoba menghampiri Lionel Messi untuk berkelahi.
Video itu memperlihatkan Lionel Messi yang berbicara tajam ke arah bangku cadangan Mesir sebelum ditarik mundur oleh Lisandro Martinez dan Leandro Paredes. Saafan El-Sagheer terus merangsek maju ke dalam lapangan, berteriak dan mengincar sang kapten Argentina. Lelaki lain dari staf Mesir harus memegangnya dengan kuat, menyeretnya kembali agar tidak terjadi baku hantam yang memalukan. Wasit Francois Letexier dari Prancis tidak ragu-ragu dan langsung mengacungkan kartu merah.
Mengenai tanda "X" yang dilakukan oleh Hossam Hassan, gestur tersebut mengundang banyak tanya di stadion yang riuh. Menurut catatan sejarah sepak bola, tanda itu mirip dengan apa yang dilakukan Jose Mourinho pada tahun dua ribu sepuluh, sebuah simbol borgol yang berarti ketidakadilan yang merantai mereka. Hossam Hassan harus ditenangkan oleh saudaranya sendiri, Ibrahim, yang menurunkan paksa tangan sang pelatih.
Dalam konferensi pers setelah pertandingan yang melelahkan itu, Hossam Hassan berbicara dengan nada pahit yang keluar dari lubuk hatinya. "Mengapa tidak ada keadilan dalam olahraga? Dalam sepak bola? Saya tidak ingin mempercantik kata-kata di sini. Kami telah diperlakukan tidak adil hari ini. Kami menderita karena ketidakadilan," kata Hossam Hassan dengan mata yang tajam.
Menurut pernyataan lanjutan dari Hossam Hassan, pihak Mesir sejak awal telah mengajukan keberatan atas penunjukan Francois Letexier sebagai pengadil di lapangan. Sebagai bentuk protes yang keras atas kekalahan ini, sang pelatih menyatakan tidak akan lagi menonton satu pun pertandingan tersisa di turnamen ini. "Ini adalah cara saya sendiri untuk berbicara dan berdiri melawan. Saya tidak akan menonton satu pun pertandingan dari turnamen ini," ujarnya menutup malam yang kelam bagi Mesir.