Calon penerus Perdana Menteri Inggris Raya Keir Starmer, Andy Burnham, bakal langsung berhadapan dengan ujian besar begitu menjabat. Menurut laporan CNBC, ia harus segera memutuskan apakah akan memperluas pengeboran minyak di Laut Utara atau menggandakan investasi pada sektor energi terbarukan di tengah guncangan energi global.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Ketegangan ini semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut campur. Berdasarkan pernyataan Trump, ia menyalahkan pengunduran diri Starmer bulan ini pada kegagalan kebijakan energinya. Intervensi ini terjadi saat perang Iran mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pasokan paling kritis di dunia.
Menurut para pelaku bisnis, penyusutan pasokan fisik ini memperkuat argumen mengapa produksi domestik sangat krusial bagi keamanan dan kemandirian energi Inggris Raya, berkaca pada guncangan yang sebelumnya dipicu oleh perang Rusia di Ukraina. Namun, jurang pemisah di panggung politik tetap tidak terhindarkan.
Berdasarkan informasi internal, Menteri Keuangan Inggris Raya Rachel Reeves secara pribadi mendukung rencana pengeboran baru. Sebaliknya, Menteri Energi Ed Miliband justru mendesak agar fokus dialihkan sepenuhnya pada energi bersih. Miliband sendiri diproyeksikan bakal menggantikan posisi Reeves di kementerian keuangan dalam pemerintahan baru.
Dilema ini kian rumit karena dua serikat pekerja terbesar di Inggris Raya, Unite the Nation dan GMB, secara aktif mengampanyekan kelanjutan pengeboran. Mereka khawatir penghentian proyek minyak akan menghancurkan lapangan kerja di sektor tersebut. Burnham kini dituntut untuk segera menentukan sikap resmi di tengah reaksi pasar yang mulai bergejolak.